Aurat berasal dari kata 'awira' yang berarti hilang perasaan. Menurut bahasa, Aurat berarti malu, aib, dan buruk. Menurut istilah, Aurat berarti batas minimal dari bagian tubuh yang wajib ditutupi karena perintah Allah Swt.
Artinya, Aurat dapat dipahami sebagai sesuatu yang ditutupi oleh seseorang karena merasa malu atau rendah diri jika sesuatu itu kelihatan atau diketahui orang lain.
(Q.S. AN-NUR/24:31)
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ
زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ
بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ
إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ
نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ
أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ
يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ
بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا
إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka
menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengatahui apa
yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari
padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau
ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau
putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat
wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan
yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh,
wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
Dan Allah SWT juga berfirman :
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا
وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ "Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." [al-A’raf/7:31]
Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahîh Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَهِيَ عُرْيَانَةٌ … فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ "Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana."
Kemudian Allah menurunkan ayat :
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ "Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." [HR. Muslim, no. 3028]
Bahkan Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada istri-istri nabi dan
wanita beriman untuk menutup aurat mereka sebagaimana firman-Nya :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ
أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا "Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu
dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya
ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." [al-Ahzâb/33:59]
Dengan menutup aurat hati seorang terjaga dari kejelekan Allah Azza wa Jalla berfrman : وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ "Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri
nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih
suci bagi hatimu dan hati mereka."[al-Ahzâb/33:53]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur Asma binti
Abu Bakar Radhiyallahu anhuma ketika beliau datang ke rumah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan busana yang agak tipis.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memalingkan mukanya sambil
berkata :
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا "Wahai Asma! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh
nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan
ke muka dan telapak tangan)." [HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no.
3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah didatangi oleh
seseorang yang menanyakan perihal aurat yang harus di tutup dan yang
boleh di tampakkan, maka beliau pun menjawab : احْفَظْ عَوْرَتَكَ إلَّا مِنْ زَوْجِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ. "Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak
yang kamu miliki." [HR. Abu Dawud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i
dalam kitabnya Sunan al-Kubra, no. 8923; Ibnu Majah, no. 1920. Hadist
ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani]
Wanita yang tidak menutup auratnya di ancam tidak akan mencium bau
surga sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
beliau berkata :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ
الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ
مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَمْثَالِ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ
الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ
رِيحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِيْرةٍ كَذَا وَكَذَا "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan
dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (yang pertama adalah)
Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia
dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka,
kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak
akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium
selama perjalanan sekian dan sekian.” [HR. Muslim, no. 2128]
Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan. bahwasanya aroma Surga
bisa dicium dari jarak 500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya
Al-Laisiy, no. 1626] Dan diharamkan pula seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya atau
wanita melihat aurat wanita lainnya, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ
إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي
الثَّوْبِ الْوَا حِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةَ فِي
الثَّوْبِ الْوَحِدِ "Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan
janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang
pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula
seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” [HR. Muslim,
no. 338 dan yang lainnya]
Begitu pentingngnya menjaga aurat dalam agama Islam sehingga
seseorang di perbolehkan melempar dengan kerikil orang yang berusaha
melihat atau mengintip aurat keluarganya di rumahnya, sebagaimana sabda
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَوْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِكَ أَحَدٌ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ خَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاح "Jika ada orang yang berusaha melihat (aurat keluargamu) di rumahmu
dan kamu tidak mengizinkannya lantas kamu melemparnya dengan kerikil
sehingga membutakan matanya maka tidak ada dosa bagimu." [HR. Al-Bukhâri,
no. 688, dan Muslim, no. 2158].
BATASAN-BATASAN AURAT.
Aurat Sesama Lelaki
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang batasan aurat
sesama lelaki, baik dengan kerabat atau orang lain. Pendapat yang paling
kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur Ulama yang mengatakan bahwa
aurat sesama lelaki adalah antara pusar sampai lutut. Artinya pusar dan
lutut sendiri bukanlah aurat. Sedangkan paha dan yang lainnya adalah
aurat.
Aurat Lelaki Dengan Wanita
Jumhur Ulama sepakat bahwasanya batasan aurat lelaki dengan wanita
mahramnya ataupun yang bukan mahramnya sama dengan batasan aurat sesama
lelaki. Tetapi mereka berselisih tentang masalah hukum wanita memandang
lelaki. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini ada dua pendapat. Pendapat pertama, Ulama Syafiiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh
seorang wanita melihat aurat lelaki dan bagian lainnya tanpa ada sebab.
Dalil mereka adalah keumuman firman Allâh Azza wa Jalla :
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ "Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya."[an-Nûr/24:31]
Dan hadist Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata :
كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَعِنْدَهُ مَيْمُونَةُ فَأَقْبَلَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ وَذَلِكَ بَعْدَ
أَنْ أُمِرْنَا بِالْحِجَابِ فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : احْتَجِبَا مِنْهُ ! فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ
أَعْمَى لاَ يُبْصِرُنَا وَلاَ يَعْرِفُنَا فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفَعَمْيَاوَانِ أَنْتُمَا أَلَسْتُمَا
تُبْصِرَانِهِ "Aku berada di sisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
Maimunah sedang bersamanya. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahu
anhu -yaitu ketika perintah hijab telah turun-. Maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Berhijablah kalian berdua darinya.”
Kami bertanya, “Wahai Rasûlullâh, bukankah ia buta sehingga tidak bisa
melihat dan mengetahui kami?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik
bertanya, “Apakah kalian berdua buta ? Bukankah kalian berdua dapat
melihat dia?" [HR. Abu Dâwud, no. 4112; Tirmidzi, no. 2778; Nasa’i
dalam Sunan al- Kubrâ, no.9197, 9198) dan yang lainnya namun riwayat ini
adalah riwayat yang dha’îf, dilemahkan oleh Syaikh al-Albâni Dan mereka juga berdalil dengan qiyas: yaitu sebagaimana di haramkan
para lelaki melihat wanita seperti itu pula di haramkan para wanita
melihat lelaki.
Pendapat yang kedua adalah pendapat Ulama di kalangan mazhab Hambali,
boleh bagi wanita melihat pria lain selain auratnya. Mereka berdalil
dengan sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu anhuma,
dia berkata :
رَأَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِى
بِرِدَائِهِ ، وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى الْحَبَشَةِ يَلْعَبُونَ فِى
الْمَسْجِدِ ، حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّذِى أَسْأَمُ ، فَاقْدُرُوا قَدْرَ
الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ الْحَرِيصَةِ عَلَى اللَّهْوِ "Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan
pakaiannya, sementara aku melihat ke arah orang-orang Habasyah yang
sedang bermain di dalam Masjid sampai aku sendirilah yang merasa puas.
Karenanya, sebisa mungkin kalian bisa seperti gadis belia yang suka
bercanda." [HR. Al-Bukhâri, no.5236; Muslim, no.892 dan yang lainnya]
Aurat Lelaki Dihadapan Istri
Suami adalah mahram wanita yang terjadi akibat pernikahan, dan tidak ada
perbedaan pendapat di kalangan para Ulama bahwasanya seorang suami atau
istri boleh melihat seluruh anggota tubuh pasangannya. Adapun hal ini
berdasarkan keumuman firman Allâh Azza wa Jalla :
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٢٩﴾ إِلَّا عَلَىٰ
أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ
مَلُومِينَ "Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap
istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela." [al-Ma’ârij/70:29-30]
Dan hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata:
قَالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ مِنْ جَنَابَةٍ “Aku mandi bersama dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dari satu bejana dalam keadaan junub." [HR. Al-Bukhâri, no. 263 dan
Muslim, no. 43]
Aurat Wanita Dihadapan Para Lelaki Yang Bukan Mahramnya
Diantara sebab mulianya seorang wanita adalah dengan menjaga auratnya
dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Oleh kerena itu, agama Islam
memberikan rambu-rambu batasan aurat wanita yang harus di tutup dan
tidak boleh ditampakkan. Para Ulama sepakat bahwa seluruh anggota tubuh
wanita adalah aurat yang harus di tutup, kecuali wajah dan telapak
tangan yang masih diperselisihkanoleh para Ulama tentang kewajiban
menutupnya. Dalil tentang wajibnya seorang wanita menutup auratnya di
hadapan para lelaki yang bukan mahramnya adalah firman Allâh Azza wa
Jalla :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ
الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ
أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
رَحِيمًا "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu
dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya
ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” [al-Ahzab/33:59] Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa
seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat yang harus di tutup. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِـهَا اسْتَشْـرَ فَهَا الشَّيْـطَانُ "Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan
menghiasinya." [HR. Tirmidzi,no. 1173; Ibnu Khuzaimah, no. 1686;
ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabîr, no. 10115 dan yang lainnya]
Aurat Wanita Di depan Mahramnya
Mahram adalah seseorang yang haram di nikahi kerena adanya hubungan
nasab, kekerabatan dan persusuan. Pendapat yang paling kuat tentang
aurat wanita di depan mahramnya yaitu seorang mahram di perbolehkan
melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak ketika dia berada di
rumahnya seperti: kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis atau dengan
kata lain boleh melihat anggota tubuh yang terkena air wudhu. Hal ini
berdasarkan keumuman ayat dalam surah an-Nur, ayat ke-31, insyaAllah
akan datang penjelasannya pada batasan aurat wanita dengan wanita
lainnya. Dan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu
anhuma berkata :
كَانَ الرِّجَالُ والنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُوْنَ فِيْ زَمَانِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعًا "Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam melakukan wudhu’ secara bersamaan." [HR. Al-Bukhâri, no.193 dan
yang lainnya]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Bisa jadi, kejadian ini sebelum
turunnya ayat hijab dan tidak dilarang pada saat itu kaum lelaki dan
wanita melakukan wudhu secara bersamaan. Jika hal ini terjadi setelah
turunya ayat hijab, maka hadist ini di bawa pada kondisi khusus yaitu
bagi para istri dan mahram (di mana para mahram boleh melihat anggota
wudhu wanita)."
Aurat Wanita Di Depan Wanita Lainnya
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang aurat wanita
yang wajib di tutup ketika berada di depan wanita lain. Ada dua pendapat
yang masyhûr dalam masalah ini : • Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa aurat wanita di depan wanita
lainnya seperti aurat lelaki dengan lelaki yaitu dari bawah pusar sampai
lutut, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak menimbulkan syahwat
bagi orang yang memandangnya. • Batasan aurat wanita dengan wanita lain, adalah sama dengan batasan
sama mahramnya, yaitu boleh memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi
tempat perhiasan, seperti rambut, leher, dada bagian atas, lengan
tangan, kaki dan betis. Dalilnya adalah keumuman ayat dalam surah
an-Nûr, ayat ke-31. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ
أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ
بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي
أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ "Dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka,
atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka,
atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam."[an-Nûr/24:31]
SIAPAKAH YANG BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA AURAT?
Agama Islam selaras dengan fitrah manusia. Selama fitrah tersebut masih
suci, tidak di nodai dengan maksiat, maka menjaga aurat bagian dari
pembawaan manusia sejak lahir, sebagaimana nabi Adam dan istrinya
ketika nampak aurat mereka yang sebelumnya tertutup akibat memakan buah
yang terlarang. Dengan fitrahnya, nabi Adam dan istrinya menutup
auratnya dengan daun-daun surga, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :
فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا
سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ
وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ
وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ "Maka syaithan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu
daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi
keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan
daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku
telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan aku katakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" [al- A’râf/7:22] Namun, ketika fitrah ini mulai hilang dari bani Adam dan ketika sifat
malu pada diri mereka mulai terkikis, maka harus ada yang mengontrol
dan mengingatkan mereka dalam menjaga aurat. Sebab, mempertontonkan
aurat merupakan sebuah kemungkaran yang harus di ingkari, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ
أَضْعَفُ الْإِيمَانِ "Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia
mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya,
jika dia tidak bisa maka dengan hatinya dan itu adalah selemah –lemah
iman." [HR. Muslim, no.49 dan yang lainnya] Mengubah kemungkaran dengan tangan adalah hak dari ulill amri
(pemerintah) atau orang yang memiliki kekuasan, seperti ayah kepada
anaknya, atau suami terhadap istrinya. Seorang bapak berkewajiban
menjaga aurat anak perempuannya jika dia sudah baligh. Mereka
berkewajiban melarang anak perempuan mereka berdandan atau berpakaian
yang tidak menutup aurat ketika keluar rumah. Begitu pula seorang suami,
ia juga berkewajiban menjaga aurat istrinya, seperti menyuruhnya
berbusana yang menutup anggota tubuhnya, menyuruhnya berjilbab jika
keluar rumah. Dan jika sudah diberi nasehat dengan cara yang baik, suami
boleh memberikan sangsi kepada istrinya yang tetap membuka auratnya,
yaitu dengan pisah ranjang, atau memukulnya dengan pukulan yang tidak
meninggalkan bekas. Karena membuka aurat bagian dari nusyuz
(meninggalkan salah satu kewajiban) seorang istri kepada suaminya. Allâh
Azza wa Jalla berfirman tentang sangsi nusyuz : وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي
الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا
عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا "Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyûz maka nasehatilah mereka
dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan
untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allâh Maha Tinggi lagi maha besar."
[An-Nisâ’/4:34] Pemerintah juga mempunyai peranan penting dalam menjaga aurat
masyarakat, sehingga mereka tidak seenaknya berpakaian dan berpenampilan
yang mengumbar aurat di depan umum. Tatanan sebuah masyarakat akan
rusak jika hal ini tidak dilarang, sebab akan terjadi berbagai macam
kemungkaran seperti perzinahan, pemerkosaan dan yang lainnya. Pemerintah
harus ikut andil dalam menjaga aurat masyarakat kerena itu merupakan
kewajiban dan tanggung jawab mereka sebagai pihak yang berwenang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ
الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan di tanya tentang
kepemimpinannya, seorang amir maka dia adalah pemimpin bagi rakyatnya
dan akan ditanya tentang kepemimpinannya." [HR. al-Bukhâri , no.
893,2409,2554; dan Muslim, no.1829]
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Wajib bagi waliyul amri
(pemerintah) melarang perempuan yang keluar (rumahnya) dengan berdandan
dan bersolek, dan juga melarang mereka berpakaian yang menampakkan
auratnya." [at-Thuruq al-Hukmiah, hlm. 238]
Jika terjadi pelangggaran dalam masalah ini pemerintah boleh
memberikan sangsi terhadap pelakunnya, dan hal ini di benarkan dalam
agama Islam. Masalah jenis sangsi, dikembalikan kepada kebijakan hakim.
Kerena pelanggaran tidak menutup aurat termasuk hukum ta’zîr dan bukan
bagian dari hukum hudud. Wallahu a’lam.
Aurat walau bagaimanapun, untuk menjaga adab dan untuk memelihara timbulnya fitnah. Menutup aurat karena fitnah, yang memungkinkan timbulnya nafsu adalah suatu kewajiban. Hal inilah yang menjadi perhatian Islam yang berusaha mengangkat martabat manusia di hadapan manusia lainnya dengan mempertinggi akhlak dan menutup aurat.
Kisah seorang wanita yang sangat taat beribadah tapi belum mau menutup aurat
Ada
seorang wanita yang dikenal taat beribadah.Ia kadang menjalankan ibadah
sunnah. Hanya satu kekurangannya, Ia tak mau berjilbab. Menutup
auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum danmenjawab”Insya Allah
yang penting hati dulu yang berjilbab. ”Sudah banyak orang menanyakan
maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.
Hingga
di suatu malam.Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang sangat indah.
Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan
bisamerasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang
sangat jernih hingga dasarnya kelihatan, melintas dipinggir
taman.Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.
Ia
tak sendiri.Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati
keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat
bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.
“Assalamu'alaikum,saudariku....”
“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”
“Benarkah? Tak bisa kubayangkan sepertiapa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”
Wanita itu tersenyum lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”
“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba
jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu
itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai
memasukinya satu-persatu.
“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat
“ Tunggu..tunggu aku..”
dia
berlari namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari
sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia
sudah berlari. Ia lalu berteriak
“Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum
Wanita
itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum
wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.
“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Laluberkata
“Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengandiriku ?”
Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa jilbab menutup auratmu ?”
Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata
”Sungguh
sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki
surga ini untuk dirimu. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu
adalah menghijabi hati.”
Ia tertegun..lalu
terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat
malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu.. berjanji pada Allah
sejak saat itu ia akan menutup auratnya.
Minggu, 11 September 2016
JILBAB
Jilbab seringkali disebut dengan istilah kerudung. Namun, kata jilbab
sekarang lebih populer di telinga masyarakat. Jilbab asalnya dari bahasa
saudi arabia yakni Jalaba, yang bermakna membawa , menghimpun. Itu
berarti menghimpun sesuatu yang terlepas. Secara istilah sekarang ini, jilbab
atau kerudung ialah salah satu busana yang dikenakan oleh wanita
beragama Islam, yang berfungsi untuk menutupi bagian kepala dan dada.
Busana semacam ini ada ketika sebuah perintah datang melalui Nabi
Muhammad saw. ditujukan oleh semua wanita-wanita muslimah. Waktu itu
dikenal dengan istilah khumur atau hijab (penghalang
Negara-negara yang kebanyakan memeluk agama Islam juga memiliki sebutan
sendiri-sendiri. Misalnya nama chador dipakai di Negara Iran, Pardeh
(Pakistan dan wilayah India), orang-orang Libya menamainya dengan
Milayat, wanita Iraq menyebutnya Abaya, Charshaf (Republik Turki), kalau
awek-awek Melayu mengenalnya dengan istilah tudung. Sedangkan untuk
Arab sendiri menyebutnya hijab. Dan kerudung / jilbab digunakan oleh
masyarakat Indonesia.
Khusus Negara Indonesia, istilah "jilbab" diartikan sebagai pakaian
wanita yang dikenakan dengan menutup semua kepala kecuali muka kemudian
dirangkaikan bersama baju agar semua badan tertutup kecuali tangan dan
kaki. Sedang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan dengan
kerudung berukuran lebar dikenakan seorang wanita muslimah guna menutupi
kepala dan leher hingga dada (agar tidak terlihat lekukan-lekukannya).
Perkembangan Jilbab di Indonesia dari Masa ke Masa
Perkembangan hijab dari masa ke masa
tentu berbeda-beda. Di era 1990an yang mengenakan hijab umumnya orang
dewasa dengan gaya simpel satu peniti dibawah dagu. Seiring dengan
perkembangan zaman, gaya hijab wanita Indonesia bertransformasi menjadi
lebih modern dan trendi. Wanita muda juga sudah banyak yang konsisten
berjilbab saat beraktivitas sehari-hari. Seperti apa perbedaan gaya
hijab dulu dan sekarang? Yuk simak transformasi gaya jilbab wanita
Indonesia dari masa ke masa.
Pada tahun 1800-an, kaum perempuan yang memiliki nilai spiritual
tinggi biasanya menggunakan penutup rambut yang berupa penutup kepala
Adat (seperti di wilayah Minangkabau) atau menggunakan selendang yang
biasa disebut “tudung” atau “kerudung”. Laksmana Keumalahayati merupakan
salah seorang bangsawan Aceh sekaligus panglima perang pertama yang
menggunakan kerudung dari selendang.
Tahun 1900-an
Pada masa 1900 an, muncullah nama Nyai Ahmad Dahlan dengan penggunaan
kerudung yang berbentuk seperti bergo pada zaman sekarang. Ia adalah
tokoh emansipasi perempuan yang bergerak sebagai pahlawan nasional
Indonesia. Tahun 1950
Pada masa 1950 an, Hajah Rasuna Said merupakan salah satu pelopor
penggunaan kerudung dengan bentuk kerudung segitiga yang langsung
dipakai di atas rambut dengan lengkungan pada bagian dahi. Ia juga
merupakan salah satu pejuang emansipasi yang menginginkan persamaan hak
antara perempuan dan laki-laki.
Tahun 1980-an
Jilbab di era 1980-an mulai memperoleh modifikasi sehingga perempuan
berjilbab menggunakan gaya jilbab kopiah (dengan ciput berbentuk
kopiah). Jilbab ini digunakan oleh Sitoresmi, mantan isteri WS Rendra
dan juga Hajah Nina Lubis yang merupakan professor pertama Indonesia di
bidang Sejarah.
Tahun 1990-an
Jilbab berlapis-lapis dengan ciput dan kerudung yang tebal dan
tertutup kemudian menjadi gaya baru yang muncul pada tahun 1990-an.
Jilbab ini dipopularkan oleh Neno Warisman dan Lutfiah Sungkar dengan
bentuk chador yang lebih sederhana.
Tahun 2000-an
Tahun 2000-an, sudah banyak artis yang menggunakan jilbab untuk
mengganti penampilan seksi mereka. Salah satunya adalah Inneke
Koesherawati. Ia menggunakan kerudung dengan gaya simple, namun tetap
menutupi auratnya. Namun, pada era inijuga muncul gaya kudung gaul
dengan ujung kerudung yang diikat ke belakang sehingga terlihat seperti
sebuah cekikan.
Tahun 2008
Tahun 2008, gaya jilbab dengan menggunakan pashima mulai booming
setelah munculnya film Islami “Ayat-ayat Cinta” yang di dalamnya
menampilkan perempuan-perempuan Arab yang berhijab dengan menggunakan
gaya jilbab pashmina. Cara memakainya :
Tahun 2010
Sejak
2010, Dian Pelangi muncul sebagai ikon hijabers Indonesia yang
memberikan trend busana hijab warna-warni sehingga terlihat lebih muda.
Dian membawa pengaruh yang besar terhadap perubahan fashion hijab di
Indonesia kala itu. Tidak hanya warna-warni, para wanita muda yang baru
mengenakan jilbab pun turut mengaplikasikan gaya tumpuk sebagai wujud
ekspresi diri. Turban juga menjadi salah satu gaya yang hits pada tahun
tersebut. Cara memakainya:
Tahun 2012
Trend gaya hijab tumpuk mulai memudar di
akhir 2012, dan terus menyusut hingga saat ini. Para wanita Indonesia
kembali menyukai penampilan yang simpel. Melihat hal tersebut, para
produsen serta desainer hijab mulai memodifikasi jilbab instan agar
terlihat semakin modern. Banyak bermunculan hoodie instan yang praktis
digunakan tapi tetap modern. Banyak selebriti berhijab yang juga
menggunakannnya sehingga sempat booming di 2014 lalu. Zaskia Sungkar,
Zaskia Adya Mecca, hingga Inneke Koesherawati termasuk selebriti yang
memopulerkan gaya jilbab instan modifikasi.
Cara memakainya:
Tahun 2016
Di 2016, gaya jilbab wanita Indonesia
semakin simpel. Kini wanita tidak mementingkan tren gaya jilbab lagi
tapi lebih memilih untuk mengkreasikan kerudung yang nyaman dan sesuai
gaya personal masing-masing. Para wanita muda saat ini juga tentu
mengedepankan unsur modern mulai dari kerudung hingga padu padan busana
yang digunakan.
Cara memakainya:
Hukum Memakai Jilbab
Salah seorang perempuan cerdik & shalihah Ummu Abdillah
Al-Wadi’iyah berkata: “Sungguh, musuh-musuh Islam telah mengetahui bahwa
keluarnya kaum perempuan dgn mempertontonkan aurat adalah sebuah
gerbang diantara gerbang-gerbang menuju kejelekan & kehancuran. Dan
dgn hancurnya mereka maka hancurlah masyarakat. Oleh karena itulah
mereka sangat bersemangat mengajak kaum perempuan supaya rela
menanggalkan jilbab & rasa malunya…” (Nasihati li Nisaa’, hal. 91). Beliau juga mengatakan: “Sesungguhnya persoalan tabarruj
(mempertontonkan aurat) bukan masalah ringan karena hal itu tergolong
perbuatan dosa besar.” (Nasihati li Nisaa’, hal. 95). Allah ta’ala berfirman,
“Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
utk menutup auratmu & pakaian indah utk perhiasan. & pakaian
takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS.
Al-A’raaf: 26)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang aurat, maka
beliau bersabda, “Jagalah auratmu, kecuali dari (penglihatan) suamimu
atau budak yang kau punya.” Kemudian beliau ditanya, “Bagaimana apabila
seorang perempuan bersama dgn sesama kaum perempuan ?” Maka beliau
menjawab, “Apabila engkau mampu utk tak menampakkan aurat kepada
siapapun maka janganlah kau tampakkan kepada siapapun.” Lalu beliau
ditanya, “Lalu bagaimana apabila salah seorang dari kami (kaum
perempuan) sedang bersendirian ?” Maka beliau menjawab, “Engkau lebih
harus merasa malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia.” (HR. Abu
Dawud [4017] & selainnya dgn sanad hasan, lihat Fiqhu Sunnah li
Nisaa’, hal. 381).
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu
& isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka
lebih mudah utk dikenal, karena itu mereka tak di ganggu. & Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid &
mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa
menanggalkan pakaian mereka dgn tak (bermaksud) Menampakkan perhiasan,
& berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha
mendengar lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nuur: 60)
Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah berkata: “Yang dimaksud dgn Al-Qawa’id
adalah perempuan-perempuan tua, maka kandungan ayat ini menunjukkan
bolehnya perempuan tua yang sudah tak punya hasrat menikah utk
melepaskan pakaian mereka.”
Manfaat Memakai Jilbab 1. Menaati Perintah Agama
Berjilbab merupakan salah satu sunnah Rasullullah SAW dalam ajaran
islam, artinya ketika menggunakan jilbab kita telah melakukan salah satu
sunnah Rasullullah dan mendekatkan diri kepadaNYA. 2. Terhindari dari godaan untuk centil dan tidak sopan
Dengan berjilbab wanita muslimah akan berpikir 100x untuk bersifat
centil atau tidak sopan karena beban moral yang ia emban. Bagi muslimah
yang serius dalam menggunakan jilbab, bisa dipastikan perbuatan ini
semaksimal mungkin dihindari. 3. Laki laki akan merasa segan mengganggu/mengoda anda
Percaya atau tidak ini adalah manfaat menggunakan jilbab yang tidak
disadari, namun survei telah menunjukkan bahwa laki-laki cenderung segan
untuk menggoda perembuan yang menggunakan jilbab. 4. Menutupi Aurat
Sudah tentu ini adalah manfaat dasar yang akan diperoleh seorang
perempuan yang menggunakan jilbab dalam kesehariannya. Dengan
menggunakan jilbab anda akan menutupi seluruh aurat yang tidak
diperbolehkan dilihat orang lain kecuali suami. Contohnya adalah kekukan
dada dan paha. 5. Mencegah sengatan sinar matahari
Sinar matahari yang terik akan mengakibatkan berbagai masalah rambut
dan kulit kepala yang mungkin berdampak serius bagi anda. Dengan
menggunakan jilbab maka anda akan terlindungi dari masalah tersebut yang
artinya tidak perlu menggunakan penutup kepala tambahan lagi. 6. Mencegah Kanker Kulit
Wah.. yang ada dibenak anda pasti “apa hubungannya jilbab dengan
kanker” ? Perlu anda ketahui mengenakan pakaian ketat plus terkena sinar
matahari dalam waktu lama akan mengakibatkan kulit menderita kanker
milanoma. Wanita berjilbab pasti memiliki pakaian yang longgar dan pasti
terhindar dari bahaya ini. 7. Menjaga kesehatan rambut
Sinar matahari, depu, polusi, dan berbagai radikal bebas yang
terdapat diudara dapat mengakibatkan berbagai masalah serius untuk
rambut. Sebut saja ketombe, rambut rontok, rambut bercabang, dan
berbagai keluhan lain yang dapat anda atasi dengan menggunakan jilbab.
Debu dan polusi merupakan penyebab utama masalah rambut, menggunakan
jilbab adalah salah satu solusi praktisnya.
Kisah Inspiratif Alyssa Soebandono
Alyssa Soebandono atau yang akrab dipanggil Icha ini rupanya semakin
mantap saja untuk menutup auratnya. Banyak yang mengira Icha menutup
auratnya ini karena menikahi Dude Harlino yang dikenal sangat taat pada
agama. Namun, ternyata menurut pengakuan Icha sendiri yang membuat ia
mantap berhijab ialah sebuah mimpi yang ia alami beberapa minggu sebelum
ia menikah.
Dituliskan dalam akun instagram Icha yakni
@ichasoebandono, beberapa minggu sebelum resmi menikah dengan Dude
Harlino ia bermimpi berada dalam suatu ruangan gelap yang tidak ada
siapapun di dalamnya. Lalu seketika ruangan tersebut dipenuhi oleh
wanita yang belum menggunakan hijab sementara ia sudah menggunakan
hijab.
Icha bingung dan tak tahu harus mencari siapa. Icha lalu
melihat ada pintu dengan cahaya terang, ia pun menuju pintu tersebut.
Icha pun bertemu dengan Dude dan Icha melihat banyak wanita mengenakan
hijab. Icha pun mendengarkan kata-kata "Kamu sudah bertemu dengan
pasangan kamu. Tidak perlu kamu mencari pasangan yg berfoya-foya,
menunjukkan hartanya kepada semua orang. Apalah arti semua uang itu
kalau tidak mengajak kamu ke arah yg lebih baik yang tentu membuat kamu
lebih bahagia? Hidup walau hanya dengan uang 1000 perak tetapi dengan
orang yang tepat menjadi imam akan jauh lebih bahagia dibandingkan
dengan yg lain, karena kamu menemukan kebahagiaan yg tak bisa dibayar
oleh apapun, yaitu kekuatan iman dan cinta kepada Yang Maha Kuasa".
Inilah rupanya yang membuat Icha semakin mantap untuk mengenakan hijab untuk menutup auratnya. Alhamdulillah.
Hubungan Laki-Laki dan Perempuan
Sebenarnya pertemuan
antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan,
hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam
urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain
yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Namun, kebolehan itu
tidak bererti bahawa batas-batas diantara keduanya menjadi lebur dan
ikatan-ikatan syar`iyah yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap diri
kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan
kita pun tidak perlu memindahkan budaya Barat kepada kita. Yang harus kita lakukan
ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan
takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Batas-batas
hukum tersebut antara lain:
1. Menahan pandangan
dari kedua belah pihak.
Artinya, tidak boleh
melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak berlama-lama
memandang tanpa ada keperluan. Allah berfirman:
"Katakanlah kepada
orang laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (an-Nur: 30-31)
2. Pihak wanita harus
mengenakan pakaian yang sopan yang dituntunkan syara`
Yaitu pakaian yang
menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Jangan yang nipis dan
jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allah berfirman:
"Dan janganlah
mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya" (an-Nur: 31)
Diriwayatkan dari
beberapa sahabat bahawa perhiasan yang biasa tampak ialah muka dan tangan.
Allah berfirman
mengenai sebab diperintahkan- Nya berlaku sopan:
"Yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu."
(al-Ahzab: 59)
Dengan pakaian
tersebut, dapat dibedakan antara wanita yang baik-baik dengan wanita nakal.
Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya,
sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk
menghormatinya.
3. Mematuhi adab-adab
wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:
a. Dalam perkataan,
harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allah
berfirman:
"Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit
dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik." (al-Ahzab: 32)
b.Dalam berjalan,
jangan memancing pandangan orang. Firman Allah
"Dan janganlah
mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan."
(an-Nur: 31)
Hendaklah mencontoh
wanita yang disebutkan oleh Allah dengan firman-Nya:
"Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan."
(al-Qashash: 25)
c. Dalam gerak,
jangan berlenggak-lenggok, seperti yang disebut dalam hadits:
"(Yaitu)
wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki
cenderung kepada kerusakan (kemaksiatan)." (HR Ahmad dan Muslim)
Jangan sampai
ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita
jahiliah dulu atau pun jahiliah modern.
4. Menjauhkan diri
dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di
rumah, bukan di jalan dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.
5. Jangan berduaan
(laki-laki dengan perempuan) tanpa disertai mahram.
Banyak hadits sahih
yang melarang hal ini seraya mengatakan, "Karena yang ketiga adalah syaitan."
Jangan berduaan
sekalipun dengan kerabat suami atau istri. Sehubungan dengan ini, terdapat
hadits yang berbunyi:
"Jangan kamu masuk ke
tempat wanita. Mereka (sahabat) bertanya, Bagaimana dengan ipar wanita?
Beliau menjawab, Ipar wanita itu membahayakan." (HR Bukhari)
Maksudnya, berduaan
dengan kerabat suami atau istri dapat menyebabkan kebinasaan, kerana boleh jadi
mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.
Dari Ibnu Abbas .a. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah seoranglelaki berdua-duaan (khalwat) dengan wanita
kecuali bersama mahramnya." (HR Bukhari & Muslim)
Dari Jabir bin Samurah berkata: Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duan dengan seorang wanita, kerana syaitan akan menjadi ketiganya." (HR Ahmad & Tirmidzi dengan sanad yang sahih)
Pertemuan itu pada
batas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan
yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah,
atau melalaikannya dari kewajpan sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik
anak-anak.
6. Menutup Aurat
Kita tahu bahawa
semua bahagian tubuh yang tidak boleh dinampakkan, adalah aurat. Oleh karena
itu, dia harus menutupinya dan haram dibuka. Aurat perempuan dalam hubungannya
dengan laki-laki lain atau perempuan yang tidak seagama, yaitu seluruh
badannya, kecuali muka dan dua tapak tangan. Demikian menurut pendapat yang
lebih kuat.
7. Tidak Melihat Jenis Lain
dengan Bersyahwat
Di antara sesuatu
yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu
pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang perempuan memandang
laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa
fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.
"Katakanlah kepada
orang-orang mu`min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebagian
pandangannya dan menjaga kemaluannya." (an-Nur: 30-31)
8. Menundukkan Pandangan
Yang dimaksud
menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala
ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini
sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran "Dan
tundukkanlah sebagian suaramu." (QS Luqman:19). Di sini tidak berarti kita harus
membungkam mulut sehingga tidak berbicara. Tetapi apa yang
dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan
begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau
laki-laki yang beraksi.
Oleh kerana itu pesan
Rasulullah kepada Sayyidina Ali :
"Hai Ali! Jangan
sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada
pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh." (Riwayat Ahmad, Abu
Daud dan Tarmizi)
Rasulullah s.a.w.
menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu
perbuatan zina mata. Sabda beliau : "Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya
ialah melihat." (Riwayat Bukhari) 9. Adanya pembatas antara lelaki dengan wanita: Kalau ada sebuah keperluan terhadap kaum yang
berbeda jenis, harus disampaikan dari balik tabir
pembatas. Firman Allah:
"Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita)
maka mintalah dari balik hijab." (al-Ahzaab: 53)
10. Tidak Menyentuh Kaum Lawanan Jenis:Dari Maqil bin Yasar .a. berkata;"Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh kaum wanita yang tidak halal baginnya." (HR Thabrani dalam Mujam Kabir) Syaikh al-Abani Rahimahullahberkata: Dalam hadis ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Inilah sebahagian etika pergaulan lelaki dan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebahagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana (Ash-Shohihah
1/44 Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam
saat-saat penting seperti membaiat dan lain- lainnya. Dari Aishah
berkata: "Demi ALLAH, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan
wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR Bukhari)Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya ALLAH menetapkan untuk anak adam bahagiannyadari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina matadengan memandang, zina lisan dengan berbicara,
sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan ataumendustakan semuanya." (HR Bukhari,Muslim & Abu Daud) Firman Allah: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk." (al-Isra: 32)
11. Tidak Melunakkan Ucapan (Percakapan):
Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya ketika berbicara selain kepada suaminya. Firman ALLAH SWT:
"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (berkata-kata yang menggoda) sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit di dalam hatinya tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik." (al-Ahzaab: 32)
Islam
menetapkan beberapa kriteria syar'i pergaulan antara laki-laki dan
perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan
kesuciannya. Kriteria syar'i itu juga berfungsi untuk mencegah
perzinahan dan sebagai tindakan prefentif terjadinya kerusakan masal. Di
antaranya, Islam mengharamkan ikhtilath (bercampur laki-laki dan
perempuan dalam satu tempat) dan khalwat (berduaan antara laki-laki dan
perempuan), memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar'i dan
menundukkan pandangan, meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis
sesuai dengan kebutuhan, tidak memerdukukan dan menghaluskan perkataan
ketika bercakap dengan mereka, dan keriteria lainnya. Perkara-perkara
ini, menjadi kaidah yang penting untuk kebaikan semuanya. Tidak seperti
ocehan para penyeru ikhtilath, sesunguhnya perkara ini berbeda antara
satu dengan lainnya, atau satu kebudayaan dengan lainnya, dan pengakuan
lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dan realita.
Interaksi dan komunikasi antara
laki-laki dan perempuan sebenarnya boleh-boleh saja, dengan syarat
wanitanya tetap mengenakan hijabnya, tidak memerdukan suaranya, dan
tidak berbicara di luar kebutuhan. Adapun jika wanitanya tidak menutup
diri serta melembutkan suaranya, mendayu-dayukannya, bercanda, bergurau,
atau perbuatan lain yang tidak layak, maka diharamkan. Bahkan bisa
menjadi pintu bencana, kuburan penyesalan, dan menjadi penyebab
terjadinya banyak kerusakan dan keburukan.
Wajib berhati-hati, karena syetan
terkadang menipu seseorang dengan merasa agamanya kuat tidak terpengaruh
dengan percakapan itu. Padahal dia sedang terjerumus pada jerat
kebinasaan dan berada di atas jalan kesesatan. Realita adalah saksi
terbaik. Betapa banyak orang menentang petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dengan melanggar larangannya akhirnya ia tercampak di atas
keburukan.
Barangsiapa yang tidak memiliki hajat
untuk berinteraksi dengan lawan jenis, maka menjauhinya lebih baik dan
selamat. Jika ada kebutuhan, wajib bagi semua kaum muslimin untuk
menetapi ketentuan syar'i, di antaranya:
1. Ghadlul Bashar(menundukkan pandangan) berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah kepada orang laki-laki
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nuur: 30)
2. Tidak berduaan dengan wanita asing (bukan mahram dan bukan istrinya).
Dalam Shahihul Bukhari, dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا يخلوَنَّ رجل بامرأةٍ إلا ومعها ذو مَحرم
"Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali dia (wanita tadi) ditemani mahramnya."
3. Berusaha agar tidak ikhtilath dengan gadis yang bisa menyebabkan fitnah.
Dari Abu Sa'id bin Musayyib'd al-Khudri radliyallah 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خضرةٌ، وإنَّ الله تعالى مستخْلِفكم فيها، فينظُر كيف تعملون، اتَّقوا الدُّنيا واتَّقوا النِّساء
"Sesungguhnya dunia itu manis dan
indah. Allah menjadikan kalian berkuasa atasnya, untuk melihat apa yang
kalian perbuat. Bertakwalah terhadap dunia dan wanita." (HR. Muslim).
Dalam Shahihain, dari Usamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
ما تركتُ بعدي فتنةً أضرَّ على الرِّجال من النِّساء
"Tidak lah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita."
4. Tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahram, karena diharamkan.
Dalam Al-Mu'jam Al-Kabir milik Imam Ath-Thabrani, dari Ma'qil bin Yasar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersbda:
“Andaikata kepala salah seorang dari
kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
5. Allah telah memerintahkan
beberapa adab yang agung kepada para istri Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan segenap wanita umat ini masuk di dalamnya.
"Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."(QS. Al-Ahzab: 32)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/wanna-be-muslimah/2009/12/14/2083/batasan-pergaulan-antara-pria-dan-wanita/;#sthash.LuymF1NO.dpuf
Islam
menetapkan beberapa kriteria syar'i pergaulan antara laki-laki dan
perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan
kesuciannya. Kriteria syar'i itu juga berfungsi untuk mencegah
perzinahan dan sebagai tindakan prefentif terjadinya kerusakan masal. Di
antaranya, Islam mengharamkan ikhtilath (bercampur laki-laki dan
perempuan dalam satu tempat) dan khalwat (berduaan antara laki-laki dan
perempuan), memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar'i dan
menundukkan pandangan, meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis
sesuai dengan kebutuhan, tidak memerdukukan dan menghaluskan perkataan
ketika bercakap dengan mereka, dan keriteria lainnya. Perkara-perkara
ini, menjadi kaidah yang penting untuk kebaikan semuanya. Tidak seperti
ocehan para penyeru ikhtilath, sesunguhnya perkara ini berbeda antara
satu dengan lainnya, atau satu kebudayaan dengan lainnya, dan pengakuan
lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dan realita.
Interaksi dan komunikasi antara
laki-laki dan perempuan sebenarnya boleh-boleh saja, dengan syarat
wanitanya tetap mengenakan hijabnya, tidak memerdukan suaranya, dan
tidak berbicara di luar kebutuhan. Adapun jika wanitanya tidak menutup
diri serta melembutkan suaranya, mendayu-dayukannya, bercanda, bergurau,
atau perbuatan lain yang tidak layak, maka diharamkan. Bahkan bisa
menjadi pintu bencana, kuburan penyesalan, dan menjadi penyebab
terjadinya banyak kerusakan dan keburukan.
Wajib berhati-hati, karena syetan
terkadang menipu seseorang dengan merasa agamanya kuat tidak terpengaruh
dengan percakapan itu. Padahal dia sedang terjerumus pada jerat
kebinasaan dan berada di atas jalan kesesatan. Realita adalah saksi
terbaik. Betapa banyak orang menentang petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dengan melanggar larangannya akhirnya ia tercampak di atas
keburukan.
Barangsiapa yang tidak memiliki hajat
untuk berinteraksi dengan lawan jenis, maka menjauhinya lebih baik dan
selamat. Jika ada kebutuhan, wajib bagi semua kaum muslimin untuk
menetapi ketentuan syar'i, di antaranya:
1. Ghadlul Bashar(menundukkan pandangan) berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah kepada orang laki-laki
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nuur: 30)
2. Tidak berduaan dengan wanita asing (bukan mahram dan bukan istrinya).
Dalam Shahihul Bukhari, dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا يخلوَنَّ رجل بامرأةٍ إلا ومعها ذو مَحرم
"Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali dia (wanita tadi) ditemani mahramnya."
3. Berusaha agar tidak ikhtilath dengan gadis yang bisa menyebabkan fitnah.
Dari Abu Sa'id bin Musayyib'd al-Khudri radliyallah 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خضرةٌ، وإنَّ الله تعالى مستخْلِفكم فيها، فينظُر كيف تعملون، اتَّقوا الدُّنيا واتَّقوا النِّساء
"Sesungguhnya dunia itu manis dan
indah. Allah menjadikan kalian berkuasa atasnya, untuk melihat apa yang
kalian perbuat. Bertakwalah terhadap dunia dan wanita." (HR. Muslim).
Dalam Shahihain, dari Usamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
ما تركتُ بعدي فتنةً أضرَّ على الرِّجال من النِّساء
"Tidak lah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita."
4. Tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahram, karena diharamkan.
Dalam Al-Mu'jam Al-Kabir milik Imam Ath-Thabrani, dari Ma'qil bin Yasar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersbda:
“Andaikata kepala salah seorang dari
kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
5. Allah telah memerintahkan
beberapa adab yang agung kepada para istri Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan segenap wanita umat ini masuk di dalamnya.
"Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."(QS. Al-Ahzab: 32)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/wanna-be-muslimah/2009/12/14/2083/batasan-pergaulan-antara-pria-dan-wanita/;#sthash.LuymF1NO.dpuf
Islam
menetapkan beberapa kriteria syar'i pergaulan antara laki-laki dan
perempuan untuk menjaga kehormatan, melindungi harga diri dan
kesuciannya. Kriteria syar'i itu juga berfungsi untuk mencegah
perzinahan dan sebagai tindakan prefentif terjadinya kerusakan masal. Di
antaranya, Islam mengharamkan ikhtilath (bercampur laki-laki dan
perempuan dalam satu tempat) dan khalwat (berduaan antara laki-laki dan
perempuan), memerintahkan adanya sutrah (pembatas) yang syar'i dan
menundukkan pandangan, meminimalisir pembicaraan dengan lawan jenis
sesuai dengan kebutuhan, tidak memerdukukan dan menghaluskan perkataan
ketika bercakap dengan mereka, dan keriteria lainnya. Perkara-perkara
ini, menjadi kaidah yang penting untuk kebaikan semuanya. Tidak seperti
ocehan para penyeru ikhtilath, sesunguhnya perkara ini berbeda antara
satu dengan lainnya, atau satu kebudayaan dengan lainnya, dan pengakuan
lainnya yang tidak sesuai dengan kenyataan dan realita.
Interaksi dan komunikasi antara
laki-laki dan perempuan sebenarnya boleh-boleh saja, dengan syarat
wanitanya tetap mengenakan hijabnya, tidak memerdukan suaranya, dan
tidak berbicara di luar kebutuhan. Adapun jika wanitanya tidak menutup
diri serta melembutkan suaranya, mendayu-dayukannya, bercanda, bergurau,
atau perbuatan lain yang tidak layak, maka diharamkan. Bahkan bisa
menjadi pintu bencana, kuburan penyesalan, dan menjadi penyebab
terjadinya banyak kerusakan dan keburukan.
Wajib berhati-hati, karena syetan
terkadang menipu seseorang dengan merasa agamanya kuat tidak terpengaruh
dengan percakapan itu. Padahal dia sedang terjerumus pada jerat
kebinasaan dan berada di atas jalan kesesatan. Realita adalah saksi
terbaik. Betapa banyak orang menentang petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dengan melanggar larangannya akhirnya ia tercampak di atas
keburukan.
Barangsiapa yang tidak memiliki hajat
untuk berinteraksi dengan lawan jenis, maka menjauhinya lebih baik dan
selamat. Jika ada kebutuhan, wajib bagi semua kaum muslimin untuk
menetapi ketentuan syar'i, di antaranya:
1. Ghadlul Bashar(menundukkan pandangan) berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah kepada orang laki-laki
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nuur: 30)
2. Tidak berduaan dengan wanita asing (bukan mahram dan bukan istrinya).
Dalam Shahihul Bukhari, dari Ibnu Abbas radliyallah 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا يخلوَنَّ رجل بامرأةٍ إلا ومعها ذو مَحرم
"Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali dia (wanita tadi) ditemani mahramnya."
3. Berusaha agar tidak ikhtilath dengan gadis yang bisa menyebabkan fitnah.
Dari Abu Sa'id bin Musayyib'd al-Khudri radliyallah 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إنَّ الدُّنيا حلوةٌ خضرةٌ، وإنَّ الله تعالى مستخْلِفكم فيها، فينظُر كيف تعملون، اتَّقوا الدُّنيا واتَّقوا النِّساء
"Sesungguhnya dunia itu manis dan
indah. Allah menjadikan kalian berkuasa atasnya, untuk melihat apa yang
kalian perbuat. Bertakwalah terhadap dunia dan wanita." (HR. Muslim).
Dalam Shahihain, dari Usamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
ما تركتُ بعدي فتنةً أضرَّ على الرِّجال من النِّساء
"Tidak lah aku tinggalkan suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita."
4. Tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahram, karena diharamkan.
Dalam Al-Mu'jam Al-Kabir milik Imam Ath-Thabrani, dari Ma'qil bin Yasar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersbda:
“Andaikata kepala salah seorang dari
kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada
menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
5. Allah telah memerintahkan
beberapa adab yang agung kepada para istri Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam dan segenap wanita umat ini masuk di dalamnya.
"Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam
hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik."(QS. Al-Ahzab: 32)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/wanna-be-muslimah/2009/12/14/2083/batasan-pergaulan-antara-pria-dan-wanita/;#sthash.LuymF1NO.dpuf